
Bukan hal
yang baru lagi manakala kita harus selalu di ingatkan akan bahaya media
pertelevisian kita. Di tengah gencar-gencarnya kita diserukan untuk melakukan
pendidikan karakter di sekolah kita ternyata tidak di dukung oleh media
khususnya media televisi yang seharusnya menjadi sarana pendukung bagi
keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.
Sajian televisi
kita masih saja kurang selektif untuk memberikan tayangan yang pas dikonsumsi
bangsa kita apalagi sajian yang diperuntukkan bagi anak-anak. Lagi-lagi
anak-anak yang menjadi korban. Mereka yang nota bene akan menjadi penerus
bangsa ini sejak kecil sudah disuguhi dengan berbagai mecam tontonan kekerasan
yang dikemas apik dalam bingkai kartun yang memang diidentikkan menjadi
tontonan anak-anak.
Kalau kita
mau lebih jeli sebut saja acara "Shoun the Sheep" yang sedang booming
saat ini. Lagi-lagi membuat hati menjadi miris ternyata muatan yang ada di
dalam film tersebut tidak jauh-jauh dari kekerasan dan bahkan ada adegan-adegan
orang dewasa yang belum pantas di lihat oleh anak-anakpun ditayangkan. Padahal,
perilaku kekerasan dan perilaku yang negatif lainnya belum bisa diseleksi oleh
anak-anak kita. Anak usia 2 tahun pun sudah banyak yang duduk di depan televisi
tidak mau ketinggalan menyaksikan acara tersebut. Ternyata banyak anak usia
dini banyak yang menyukai tayangan tersebut.
Banyak
dari generasi bangsa ini yang mereka sedang tumbuh dalam usia emas (golden
ages) yang seharusnya dirangsang dengan rangsangan-rangsangan yang positif
untuk mengoptimalkan kecerdasannya justru disuguhi dengan tayangan-tayangan
yang kurang mendidik dan cenderung negatif. Otak mereka akan merekam semua yang
mereka lihat, karena pada usia itu mereka cenderung belum bisa memfilter apa
yang mereka lihat apakah itu baikkah atau burukkah. Mereka belum bisa
menyeleksi apakah seperti ini boleh saya tiru atau tidak boleh. Maka peran
semua pihak turut memberikan andil dalam mendidik anak-anak kita.
Tidak
hanya guru dan orangtua yang harus selalu memberikan perhatian dan pendampingan
kepada anak, peran mediapun juga diharapkan bisa lebih mendukung, Media
harusnya bisa selektif lagi untuk dapat memberikan tayangan-tayangan yang lebih
mendidik. Agar tayangan yang disajikan kepada anak-anak dapat mengoptimalkan
tumbuh kembang mereka kelak.
Kalau
dalam kurikulum pendidikan karakter bercita-cita menjadikan anak-anak kita
adalah orang yang senang belajar, terampil menyelesaikan masalah, pandai
berkomunikasi, punya integritas-jujur dan dapat di andalkan-, dan penuh
toleransi maka hal tersebut akan semakin sulit terwujud manakala media kita
tidak turut mendukungnya.
Media
seharusnya menjadi teman untuk keberhasilan pendidikan generasi kita jangan
sampai media justru menjadi lawan (musuh dalam selimut) bagi tunas-tunas bangsa
kita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar