Jumat, 07 Desember 2012

pendidikan karakter vs televisi


Bukan hal yang baru lagi manakala kita harus selalu di ingatkan akan bahaya media pertelevisian kita. Di tengah gencar-gencarnya kita diserukan untuk melakukan pendidikan karakter di sekolah kita ternyata tidak di dukung oleh media khususnya media televisi yang seharusnya menjadi sarana pendukung bagi keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.


Sajian televisi kita masih saja kurang selektif untuk memberikan tayangan yang pas dikonsumsi bangsa kita apalagi sajian yang diperuntukkan bagi anak-anak. Lagi-lagi anak-anak yang menjadi korban. Mereka yang nota bene akan menjadi penerus bangsa ini sejak kecil sudah disuguhi dengan berbagai mecam tontonan kekerasan yang dikemas apik dalam bingkai kartun yang memang diidentikkan menjadi tontonan anak-anak.


Kalau kita mau lebih jeli sebut saja acara "Shoun the Sheep" yang sedang booming saat ini. Lagi-lagi membuat hati menjadi miris ternyata muatan yang ada di dalam film tersebut tidak jauh-jauh dari kekerasan dan bahkan ada adegan-adegan orang dewasa yang belum pantas di lihat oleh anak-anakpun ditayangkan. Padahal, perilaku kekerasan dan perilaku yang negatif lainnya belum bisa diseleksi oleh anak-anak kita. Anak usia 2 tahun pun sudah banyak yang duduk di depan televisi tidak mau ketinggalan menyaksikan acara tersebut. Ternyata banyak anak usia dini banyak yang menyukai tayangan tersebut.


Banyak dari generasi bangsa ini yang mereka sedang tumbuh dalam usia emas (golden ages) yang seharusnya dirangsang dengan rangsangan-rangsangan yang positif untuk mengoptimalkan kecerdasannya justru disuguhi dengan tayangan-tayangan yang kurang mendidik dan cenderung negatif. Otak mereka akan merekam semua yang mereka lihat, karena pada usia itu mereka cenderung belum bisa memfilter apa yang mereka lihat apakah itu baikkah atau burukkah. Mereka belum bisa menyeleksi apakah seperti ini boleh saya tiru atau tidak boleh. Maka peran semua pihak turut memberikan andil dalam mendidik anak-anak kita.


Tidak hanya guru dan orangtua yang harus selalu memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak, peran mediapun juga diharapkan bisa lebih mendukung, Media harusnya bisa selektif lagi untuk dapat memberikan tayangan-tayangan yang lebih mendidik. Agar tayangan yang disajikan kepada anak-anak dapat mengoptimalkan tumbuh kembang mereka kelak.


Kalau dalam kurikulum pendidikan karakter bercita-cita menjadikan anak-anak kita adalah orang yang senang belajar, terampil menyelesaikan masalah, pandai berkomunikasi, punya integritas-jujur dan dapat di andalkan-, dan penuh toleransi maka hal tersebut akan semakin sulit terwujud manakala media kita tidak turut mendukungnya.
Media seharusnya menjadi teman untuk keberhasilan pendidikan generasi kita jangan sampai media justru menjadi lawan (musuh dalam selimut) bagi tunas-tunas bangsa kita ini. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar