
Ini adalah cerpen perdana yang termuat di majalah Bobo. Pak pos datang sambil memberikan amplop setelah dibuka ternyata isinya majalah Bobo. Idenya muncul saat menjadi relawan gempa Merapi. Melihat pengungsi tidur dengan kondisi seadanya. Membayangkan yang punya anak kecil apalagi yang masih bayi. Hidup harus disyukuri dengan kenikmatan yang diberikan kepada kita. Kita sampaikan hak oranglain yang dititipkan lewat tangan kita. Semangat berbagi. Happy reading 😊
APEL MERAH UNTUK RATNA
Dalam perjalanan pulang sekolah, Ratna dan Bintang berjalan beriringan. “Awas, Ratna….hati-hati jalannya licin” teriak Bintang sang kakak sambil memegangi satu lembar daun pisang yang digunakan untuk melindungi kepala mereka dari hujan. “Iya kak…” sahut Ratna yang sibuk menenteng sepatunya sendiri dan sepatu kakaknya. Jarak sekolah dan rumah masih lumayan jauh. “Kak, pernah makan apel?” tanya Ratna. “Apel apa dik?” tanya Bintang sang kakak yang sangat perhatian dan sayang dengan adik semata wayangnya itu. “Itu lho kak...Tadi bu guruku cerita kalau ada buah yang bentuknya unik dan cantik, warnanya merah serta rasanya manis menyegarkan” papar Ratna penuh semangat.
“Oh…apel merah maksudmu?” tanya Bintang. ”Iya
kak...Ratna kan jadi penasaran pingin ngerasain apel merah itu. Tadi setelah bu
guru cerita tentang apel merah beliau lalu bertanya , “Siapa yang sudah pernah
makan apel merah?” ternyata Lisa sudah pernah makan kak. Lalu dia diminta
maju di depan kelas dan menceritakan kalau apel itu memang segar sekali
rasanya. Lisa pernah di oleh-olehi saudaranya dari kota. Coba kalau bapak sama
emak punya saudara yang kaya, pasti aku bisa makan apel merah ya kak?” keluh
Ratna. “Huss…ga boleh bilang begitu ga bersyukur itu namanya.” Tegur Bintang.
“Sebenarnya apel
itu memang sudah banyak dijual dikota-kota, tapi memang kalau di desa kita,
masih sulit ditemui karena desa kita kan cukup terpencil jauh dari kota. Kakak
juga belum pernah makan apel itu, tapi pernah melihatnya waktu kakak ikut bapak
jenguk Pak Tedi di rumah sakit. Kalau kamu pingin ngerasain apel itu sekarang
kamu nabung dulu besok waktu liburan semesteran kalau dapat ijin dari emak dan
bapak, kakak antar kamu ke kota beli alat tulis sekalian beli apel merah itu.
Gimana, setuju?” Bintang memberi usul. “Baik kak, aku setuju tapi kakak janji
ya?” tanya Ratna minta kepastian. ”Oke,
pasti...”jawab Bintang sambil mengacungkan jempolnya.
Mereka tertawa bahagia, tampak di kanan dan di kiri jalan pohon-pohon yang besar dan bangunan rumah yang jaraknya cukup jauh antara satu dengan yang lainnya.
Mereka tertawa bahagia, tampak di kanan dan di kiri jalan pohon-pohon yang besar dan bangunan rumah yang jaraknya cukup jauh antara satu dengan yang lainnya.
”Bintang ayo kita
ke lapangan ada kunjungan dari SD Harapan Jaya” ajak Adit. “Iya, terus
sekolahnya libur?” tanya Bintang. “Kata kak Andi, sekolahnya akan dimulai
setelah selesai kunjungan nanti” jawab Adit.
Ternyata Bintang dan keluarga harus mengungsi bersama ribuan pengungsi yang lain karena rumah mereka ada dibawah lereng merapi yang berstatus awas!!! Kini dia dan teman-temannya untuk sementara waktu sekolah di tenda-tenda darurat.
Sementara itu Ratna tidak bisa ikut sekolah karena dia sedang sakit. Badannya kecapekan karena berhari-hari tidur di pengungsian kalau siang hari sangat panas dan kalau malam tiba dia kedinginan. Apalagi suasananya cukup ramai, tidak bisa digunakan untuk istirahat.
Ternyata Bintang dan keluarga harus mengungsi bersama ribuan pengungsi yang lain karena rumah mereka ada dibawah lereng merapi yang berstatus awas!!! Kini dia dan teman-temannya untuk sementara waktu sekolah di tenda-tenda darurat.
Sementara itu Ratna tidak bisa ikut sekolah karena dia sedang sakit. Badannya kecapekan karena berhari-hari tidur di pengungsian kalau siang hari sangat panas dan kalau malam tiba dia kedinginan. Apalagi suasananya cukup ramai, tidak bisa digunakan untuk istirahat.
Suasana semakin
semarak ratusan anak-anak korban merapi merasa terhibur. ”Disini senang di sana
senang di mana-mana hatiku senang....” riuh suara penuh kegembiraan pada wajah
anak-anak merapi. Pentas Angklung dan nyanyi bersama anak-anak Merapi berjalan
dengan meriah.
Di akhir acara anak-anak SD Harapan Jaya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas mereka. Ternyata satu siswa SD Harapan Jaya membawa tiga buah apel merah untuk anak-anak korban merapi. Masing-masing anak pengungsi yang hadir di lapangan diberi sebuah apel. Semua anak-anak pengungsi merapi merasa senang mendapatkan apel merah itu. Apel sudah habis dibagikan, anak-anak SD Harapan Jaya pun pamit kembali ke sekolah meraka.
Di akhir acara anak-anak SD Harapan Jaya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas mereka. Ternyata satu siswa SD Harapan Jaya membawa tiga buah apel merah untuk anak-anak korban merapi. Masing-masing anak pengungsi yang hadir di lapangan diberi sebuah apel. Semua anak-anak pengungsi merapi merasa senang mendapatkan apel merah itu. Apel sudah habis dibagikan, anak-anak SD Harapan Jaya pun pamit kembali ke sekolah meraka.
Bintang sudah
mendapatkan apel bagiannya. Dia juga senang sekali. ”Kenapa tidak kau makan apelmu itu? Tanya Adit heran
melihat sahabatnya yang dari tadi menimang-nimang apel di tangannya. Sementara
apel Adit sudah hampir habis dilahapnya. ”Sebenarnya aku sudah tidak sabar
ingin memakan apel ini, tapi aku ingat Ratna. Dia pingin sekali makan apel
merah. Tapi dia tidak bisa ikut ke lapangan karena dia sedang sakit. Jadi aku
ingin membagi apel ini sebagian untuk Ratna.”ungkap Bintang. ”Oh begitu....”
sahut Adit singkat.
Sekolah sudah
selesai, tapi Adit masih ingin ngobrol dengan kak Andi salah satu relawan di
sekolah darurat. Sementara Bintang bergegas ingin segera menemui Ratna yang
masih tidak enak badan di pengungsian. ”Pasti Ratna akan senang menerima
kejutan dariku”pikir Bintang.
Jarak sekolah
darurat dengan pengungsian sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja saking
banyaknya orang jadi kelihatan penuh sesak. Tiba-tiba Bintang menghentikan
langkahnya. ”Apel-apel...haa...haa....” ”Apel....apeel....haa..haa...” Seorang
gadis kecil umur 4 tahunan menangis bergulung-gulung meminta ibunya memberi
apel. Ibunya tampak kewalahan menghadapi anaknya karena si ibu tidak punya
apel.
Untuk sekian waktu lamanya Bintang berdiri tertegun ditempatnya. ”Ah...peduli amat dengan gadis kecil itu, Ratna sakit dia akan senang kalau aku beri apel ini...” desahnya. Digenggamnya erat-erat apel yang ada ditangannya. Dia kembali melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan ke pengungsian yang jaraknya sudah semakin dekat. Tetapi Bintang tiba-tiba membalikkan badannya kemudian berjalan pelan kembali ke tempat gadis kecil yang menangis itu. Diberikannya apel yang ada digenggamannya. ”Ini kakak punya apel untuk adek, sudah ya cup...cup...diam ya....” gemetar suara Bintang.
Gadis kecil itupun diam setelah menerima apel pemberian Bintang. Bintang segera berlari membalikkan badannya ia tak kuasa menahan air matanya. Satu yang ingin ia ucapkan ”Maafkan kakak ya..
, Ratna....” Bintang tidak jadi pulang ke pengungsian. Dia mencari tempat yang agak sepi untuk menenangkan hatinya. Setelah dia merasa tenang Bintang memutuskan untuk pulang. ”Aku tidak akan bercerita ke Ratna tentang apel itu. Biar dia tidak kecewa” pikir Bintang.
Untuk sekian waktu lamanya Bintang berdiri tertegun ditempatnya. ”Ah...peduli amat dengan gadis kecil itu, Ratna sakit dia akan senang kalau aku beri apel ini...” desahnya. Digenggamnya erat-erat apel yang ada ditangannya. Dia kembali melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan ke pengungsian yang jaraknya sudah semakin dekat. Tetapi Bintang tiba-tiba membalikkan badannya kemudian berjalan pelan kembali ke tempat gadis kecil yang menangis itu. Diberikannya apel yang ada digenggamannya. ”Ini kakak punya apel untuk adek, sudah ya cup...cup...diam ya....” gemetar suara Bintang.
Gadis kecil itupun diam setelah menerima apel pemberian Bintang. Bintang segera berlari membalikkan badannya ia tak kuasa menahan air matanya. Satu yang ingin ia ucapkan ”Maafkan kakak ya..
, Ratna....” Bintang tidak jadi pulang ke pengungsian. Dia mencari tempat yang agak sepi untuk menenangkan hatinya. Setelah dia merasa tenang Bintang memutuskan untuk pulang. ”Aku tidak akan bercerita ke Ratna tentang apel itu. Biar dia tidak kecewa” pikir Bintang.
Tinggal beberapa
langkah lagi Bintang sampai di pengungsian Bintang melihat Ratna sedang ngobrol
dengan Adit dan kak Andi. ”Eh...Kak Bintang dari mana? Kak lihat....! aku di
oleh-olehi Kak Adit dan kak Andi satu kresek apel merah” tutur Ratna sambil
memakan sebuah apel dengan lahapnya. Mata Bintang berkaca-kaca...
Rafiatul Khoiriyah, S.Si
Dimuat majalah BOBO Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar