Rani terus menimang-nimang celengan jagonya. Diangkat-angkatnya dan
sesekali dielus-elsunya celengan hadiah dari ibunya itu. Senang bukan kepalang
hati Rani saat mendapati ada sebuah celengan jago di atas meja belajarnya di
bawahnya ada secarik kertas bertuliskan
Untuk anakku tersayang Rani
Semoga jagoannya bertambah
berat badannya, rajin-rajin member makan ya nak… dan semoga besuk Rani saat
kelas 3 sudah berhasil mewujudkan cita-citamu untuk membeli sebuah sepeda mini
warna merah idamanmu
Bundamu yang selalu menyayangimu
Sejak mempunyai celengan jago, Rani setiap hari selalu menyisihkan
uang jajannya sebagian untuk di tabung. Sambil memasukkan koin dia selalu
bergumam “Cepat besar ya yam….” Seraya mengelus-elus badan ayam jagonya itu.
Satu tahun berlalu dan ternyata celengan Rani sudah hampir penuh. “Bunda
celangannya aku buka sekarang saja ya” pinta Rani kepada bundanya. “Boleh, tapi
ini bunda lihat celenganmu masih bisa di isi, coba Rani bersabar sampai
beberapa hari lagi. Biar penuh sekalian isinya” jawab bunda Rani sambil
tersenyum saat melihat putrinya sudah tak sabar lagi ingin membuka celengannya.
Akhirnya Rani nurut dia berkata “iya lah ga pa pa sekalian besuk habis terima
raport saja kurang sebulan lagi, sekalian biar isinya tambah banyak ya bunda”.
Bunda mengangguk sambil tersenyum, diam-diam bunda merasa bangga, anaknya Rani
termasuk anak yang rajin cerdas dan baik hati. Rani selalu rangking di kelasnya
meski mereka berasal dari keluarga yang sederhana. Ibunya seorang penjahit
ayahnya seorang petani. Tapi Rani tidak pernah merasa malu dengan kehidupan
keluarganya, dia cukup memahami kondisi keluarganya. Dia tak segan membantu
kedua orangtuanya di rumah agar meringankan beban bapak dan ibunya.
Rani juga anak yang baik hati, dia tidak marah kepada kedua
orangtuanya saat mereka mengatakan belum punya uang untuk membelikan sepeda
mini permintaannya. Karena penghasilan bapak dan ibunya hanya cukup untuk
memenuhi belanja hidup sehari-hari.
Kurang 2 hari lagi rapot-an, hati Rani semakin berdebar tak sabar
rasanya, dia sudah membayangkan sebentar lagi dia bias pergi ke sekolah naik
sepeda mini merahnya bersama dengan teman-temannya. Dia tersenyum-senyum
sendiri.
“Hai Dina..kenapa wajahmu murung begitu?” sapa Rani kepada teman
sebangkunya itu. “Ndak pa pa kok, aku Cuma ga enak badan saja” jawab Dina.
“Lagi ada masalah ya?” Tanya Rani agak mendesak. “Iya, tapi aku tidak ingin
cerita kepada siapa-siapa” jawab Dina. “Ayolah ga pa pa aku kan sahabatmu,
siapa tahu bisa membantu” Rani terus mendesak sahabatnya itu agar bercerita
tentang masalahnya kepadanya
“Adikku sakit, kami kesulitan biaya untuk pengobatannya. Kemarin
sempat periksa ke puskesmas tapi kata petugasnya harus di bawa ke Rumah Sakit.
Aku sedih, karena bapak dan ibuku tak punya cukup beaya” papar Dina. Rani
terdiam pikirannya berputar mencari ide untuk membantu sahabatnya itu. “Ya,
kamu tenang saja, nanti aku akan membantu untuk mengatasi masalahmu, semoga
adikmu segera sembuh” kata Rani menghibur.
Sepanjang jalan, Rani berpikir keras, sahabatnya sedang kesusahan,
dia teringat celengannya. Berat sekali, rasanya tinggal besok dia
menunggu-nunggu untuk membuka celengannya lalu di antar bapak beli sepeda
sementara dia kasihan dengan keluarga Dina sahabatnya itu.
Sampai dirumah Rani langsung menuju kamarnya, dia menimang-nimang
celengannya. Sambil menitikkan air mata ia membuka celengannya “Biarlah tahun
depan saja aku punya sepeda mini, adik Dina lebih membutuhkan”. Rani membongkar
celengannya, uang yang terkumpul sekitar 400 ribu. Dia segera bergegas ke rumah
Dina agar adik Dina bias segera di obati. Dina terkejut, dia menolak uang
pemberian Rani,tetapi karena Rani memaksa, maka diapun akhirnya menerimanya.
Dina terharu dengan sahabatnya yang baik hati itu.
Saat penerimaan raport Rani mendapatkan rangking 1, hatinya senang.
Dia bergegas pulang, sementara waktu dia tidak ingin memikirkan sepeda mini
lagi. Sampai di depan halaman rumahnya Rani terkejut ada sebuah sepeda mini
warna merah yang masih di bungkus plastic. Ada kertas bertuliskan
Untuk
Rani yang baik hati
Alhamdulillah bapak ada
rejeki, panen bapak melimpah tahun ini. Semoga Rani senang dengan sepeda ini
dan bias mengantarkan Rani untuk selalu menjadi juara.
Dari Bapak yang selalu menyayangimu
Dari Bapak yang selalu menyayangimu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar