Sabtu, 01 Desember 2012

Berbagi itu Indah


Rani terus menimang-nimang celengan jagonya. Diangkat-angkatnya dan sesekali dielus-elsunya celengan hadiah dari ibunya itu. Senang bukan kepalang hati Rani saat mendapati ada sebuah celengan jago di atas meja belajarnya di bawahnya ada secarik kertas bertuliskan
                                  
                               
Untuk anakku tersayang Rani
Semoga jagoannya bertambah berat badannya, rajin-rajin member makan ya nak… dan semoga besuk Rani saat kelas 3 sudah berhasil mewujudkan cita-citamu untuk membeli sebuah sepeda mini warna merah  idamanmu
                                                                          Bundamu yang selalu menyayangimu


Sejak mempunyai celengan jago, Rani setiap hari selalu menyisihkan uang jajannya sebagian untuk di tabung. Sambil memasukkan koin dia selalu bergumam “Cepat besar ya yam….” Seraya mengelus-elus badan ayam jagonya itu.


Satu tahun berlalu dan ternyata celengan Rani sudah hampir penuh. “Bunda celangannya aku buka sekarang saja ya” pinta Rani kepada bundanya. “Boleh, tapi ini bunda lihat celenganmu masih bisa di isi, coba Rani bersabar sampai beberapa hari lagi. Biar penuh sekalian isinya” jawab bunda Rani sambil tersenyum saat melihat putrinya sudah tak sabar lagi ingin membuka celengannya. Akhirnya Rani nurut dia berkata “iya lah ga pa pa sekalian besuk habis terima raport saja kurang sebulan lagi, sekalian biar isinya tambah banyak ya bunda”. Bunda mengangguk sambil tersenyum, diam-diam bunda merasa bangga, anaknya Rani termasuk anak yang rajin cerdas dan baik hati. Rani selalu rangking di kelasnya meski mereka berasal dari keluarga yang sederhana. Ibunya seorang penjahit ayahnya seorang petani. Tapi Rani tidak pernah merasa malu dengan kehidupan keluarganya, dia cukup memahami kondisi keluarganya. Dia tak segan membantu kedua orangtuanya di rumah agar meringankan beban bapak dan ibunya.


Rani juga anak yang baik hati, dia tidak marah kepada kedua orangtuanya saat mereka mengatakan belum punya uang untuk membelikan sepeda mini permintaannya. Karena penghasilan bapak dan ibunya hanya cukup untuk memenuhi belanja hidup sehari-hari.
Kurang 2 hari lagi rapot-an, hati Rani semakin berdebar tak sabar rasanya, dia sudah membayangkan sebentar lagi dia bias pergi ke sekolah naik sepeda mini merahnya bersama dengan teman-temannya. Dia tersenyum-senyum sendiri.


“Hai Dina..kenapa wajahmu murung begitu?” sapa Rani kepada teman sebangkunya itu. “Ndak pa pa kok, aku Cuma ga enak badan saja” jawab Dina. “Lagi ada masalah ya?” Tanya Rani agak mendesak. “Iya, tapi aku tidak ingin cerita kepada siapa-siapa” jawab Dina. “Ayolah ga pa pa aku kan sahabatmu, siapa tahu bisa membantu” Rani terus mendesak sahabatnya itu agar bercerita tentang masalahnya kepadanya


“Adikku sakit, kami kesulitan biaya untuk pengobatannya. Kemarin sempat periksa ke puskesmas tapi kata petugasnya harus di bawa ke Rumah Sakit. Aku sedih, karena bapak dan ibuku tak punya cukup beaya” papar Dina. Rani terdiam pikirannya berputar mencari ide untuk membantu sahabatnya itu. “Ya, kamu tenang saja, nanti aku akan membantu untuk mengatasi masalahmu, semoga adikmu segera sembuh” kata Rani menghibur.
Sepanjang jalan, Rani berpikir keras, sahabatnya sedang kesusahan, dia teringat celengannya. Berat sekali, rasanya tinggal besok dia menunggu-nunggu untuk membuka celengannya lalu di antar bapak beli sepeda sementara dia kasihan dengan keluarga Dina sahabatnya itu.


Sampai dirumah Rani langsung menuju kamarnya, dia menimang-nimang celengannya. Sambil menitikkan air mata ia membuka celengannya “Biarlah tahun depan saja aku punya sepeda mini, adik Dina lebih membutuhkan”. Rani membongkar celengannya, uang yang terkumpul sekitar 400 ribu. Dia segera bergegas ke rumah Dina agar adik Dina bias segera di obati. Dina terkejut, dia menolak uang pemberian Rani,tetapi karena Rani memaksa, maka diapun akhirnya menerimanya. Dina terharu dengan sahabatnya yang baik hati itu.


Saat penerimaan raport Rani mendapatkan rangking 1, hatinya senang. Dia bergegas pulang, sementara waktu dia tidak ingin memikirkan sepeda mini lagi. Sampai di depan halaman rumahnya Rani terkejut ada sebuah sepeda mini warna merah yang masih di bungkus plastic. Ada kertas bertuliskan
                                                                          Untuk Rani yang baik hati
Alhamdulillah bapak ada rejeki, panen bapak melimpah tahun ini. Semoga Rani senang dengan sepeda ini dan bias mengantarkan Rani untuk selalu menjadi juara.

Dari Bapak yang selalu menyayangimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar