Sabtu, 22 Desember 2012

Bermain dan Belajar




Akhir-akhir ini terjadi penyempitan makna kecerdasan yang dilakukan oleh sebagian orangtua/ guru. Cerdas dalam kamus orangtua/ guru berarti anaknya harus pandai membaca, menulis dan berhitung. 

Dan saat ini,  orangtua akan bangga karena merasa memiliki anak yang cerdas pada usia dini dalam pengertian ketika anaknya sudah pandai menulis dan berhitung. Begitu pula sebaliknya orangtua akan sedih dan malu ketika di usia TK anaknya belum bisa membaca, menulis dan berhitung.

Dr. Howard Gardner, peneliti dari Havard, membagi jenis kecerdasan manusia menjadi 8 yaitu: Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logis Matematis, Kecerdasan Visual Spasial, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan interpersonal, kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Kinestetik dan Kecerdasan naturalis. 

Membaca, menulis dan berhitung adalah bagian kecil dari kecerdasan seorang anak yang harus kita asah pada usia dini. Ada banyak kecerdasan lain yang harus kita gali dan kita optimalkan pada usia dini. Karena pada masa usia dini inilah masa emas bagi orangtua/ guru untuk mengembangkan semua potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Taraf kecerdasan seorang anak ditentukan oleh berbagai factor diantaranya adalah nutrisi otak anak, keturunan, lingkungan, cara mendidik anak dan sebagainya. Namun ada satu hal yang harus kita garis bawahi adalah orangtua/ guru harus memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk berkembang, tentunya dengan pengawasan/ pendampingan.

Belajar sejak kecil berarti menerapkan pengetahuan yang dibutuhkan otak anak selama tahun-tahun awal perkembangan mereka, sehingga ada kesesuaian antara perkembangan mental dengan kemampuan daya pikirnya. Hal itu akan lebih menggairahkan dan memotivasi anak untuk belajar. Dan biasanya ketika anak-anak kita bermain disitulah mereka belajar. Istilahnya bermain sambil belajar.

Ketika si kecil memutar-mutar salah satu tombol HP atau radio, jangan langsung dimarahi atau dipukul, tapi biarkan ia memenuhi rasa keingin tahuannya dengan menyelidiki, menarik, mendorong atau mencoba. Sebab, pembatasan gerakan anak bisa menghambat perkembangannya, bahkan lebih parah lagi bisa  menurunkan tingkat kecerdasannya.

Charlotte Buhler mengatakan bahwa bermain adalah pemicu kreatifitas. Anak akan meningkat kreatifitasnya dengan bermain. Sedangkan Jean Piaget berpendapat bahwa bagi anak bermain adalah sarana mengubah kekuatan potensial dalam diri menjadi berbagai  kemampuan dan kecakapan. Bermain adalah sarana utama untuk belajar dari alam dan belajar tentang hubungan antara orang dan obyek.

Banyak hal berharga yang dapat diperoleh anak ketika dia bermain yaitu dengan bermain dapat memperluas interaksi social dan mengembangkan ketrampilan social, yaitu belajar bagaimana berbagi, hidup bersama, mengambil peran, belajar hidup dalam masyarakat secara umum. Permainan juga akan membantu anak-anak belajar memahami tubuhnya, fungsi dan bagaimana menggunakannya. Ketika anak kita memegang gunting jangan dimarahi tapi kita arahkan kita sampaikan cara mmegangnya dan kita beritahu apa saja yang bisa digunting dan apa yang tidak boleh diguntingnya. Ini mengajarkan ketrampilan hidup bagi masa depan anak kelak.

Orangtua tidak perlu galau manakala bertanya kepada anaknya “dek tadi di sekolah belajar apa?” Anaknya dengan enteng menjawab “aku tadi bermain ma di sekolah, mencari nama-nama temanku ,wah seru”. Atau ketika guru lesnya datang membawa banyak kartu-kartu huruf orangtua tidak usah merasa khawatir kok dari tadi anakku tidak belajar-belajar ya malah main-main saja. Jadi perlu kita pahami bersama belajar tidak identik dengan membawa buku yaitu menulis dan membaca saja. Melalui bermain anak-anak kita tumbuhkan motivasi mereka agar senang belajar dan biarkan mereka menganggap bahwa belajar itu sesuatu yang menyenangkan bukan sesuatu yang membebani.

Jumat, 07 Desember 2012

pendidikan karakter vs televisi


Bukan hal yang baru lagi manakala kita harus selalu di ingatkan akan bahaya media pertelevisian kita. Di tengah gencar-gencarnya kita diserukan untuk melakukan pendidikan karakter di sekolah kita ternyata tidak di dukung oleh media khususnya media televisi yang seharusnya menjadi sarana pendukung bagi keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.


Sajian televisi kita masih saja kurang selektif untuk memberikan tayangan yang pas dikonsumsi bangsa kita apalagi sajian yang diperuntukkan bagi anak-anak. Lagi-lagi anak-anak yang menjadi korban. Mereka yang nota bene akan menjadi penerus bangsa ini sejak kecil sudah disuguhi dengan berbagai mecam tontonan kekerasan yang dikemas apik dalam bingkai kartun yang memang diidentikkan menjadi tontonan anak-anak.


Kalau kita mau lebih jeli sebut saja acara "Shoun the Sheep" yang sedang booming saat ini. Lagi-lagi membuat hati menjadi miris ternyata muatan yang ada di dalam film tersebut tidak jauh-jauh dari kekerasan dan bahkan ada adegan-adegan orang dewasa yang belum pantas di lihat oleh anak-anakpun ditayangkan. Padahal, perilaku kekerasan dan perilaku yang negatif lainnya belum bisa diseleksi oleh anak-anak kita. Anak usia 2 tahun pun sudah banyak yang duduk di depan televisi tidak mau ketinggalan menyaksikan acara tersebut. Ternyata banyak anak usia dini banyak yang menyukai tayangan tersebut.


Banyak dari generasi bangsa ini yang mereka sedang tumbuh dalam usia emas (golden ages) yang seharusnya dirangsang dengan rangsangan-rangsangan yang positif untuk mengoptimalkan kecerdasannya justru disuguhi dengan tayangan-tayangan yang kurang mendidik dan cenderung negatif. Otak mereka akan merekam semua yang mereka lihat, karena pada usia itu mereka cenderung belum bisa memfilter apa yang mereka lihat apakah itu baikkah atau burukkah. Mereka belum bisa menyeleksi apakah seperti ini boleh saya tiru atau tidak boleh. Maka peran semua pihak turut memberikan andil dalam mendidik anak-anak kita.


Tidak hanya guru dan orangtua yang harus selalu memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak, peran mediapun juga diharapkan bisa lebih mendukung, Media harusnya bisa selektif lagi untuk dapat memberikan tayangan-tayangan yang lebih mendidik. Agar tayangan yang disajikan kepada anak-anak dapat mengoptimalkan tumbuh kembang mereka kelak.


Kalau dalam kurikulum pendidikan karakter bercita-cita menjadikan anak-anak kita adalah orang yang senang belajar, terampil menyelesaikan masalah, pandai berkomunikasi, punya integritas-jujur dan dapat di andalkan-, dan penuh toleransi maka hal tersebut akan semakin sulit terwujud manakala media kita tidak turut mendukungnya.
Media seharusnya menjadi teman untuk keberhasilan pendidikan generasi kita jangan sampai media justru menjadi lawan (musuh dalam selimut) bagi tunas-tunas bangsa kita ini. 




Sabtu, 01 Desember 2012

Berbagi itu Indah


Rani terus menimang-nimang celengan jagonya. Diangkat-angkatnya dan sesekali dielus-elsunya celengan hadiah dari ibunya itu. Senang bukan kepalang hati Rani saat mendapati ada sebuah celengan jago di atas meja belajarnya di bawahnya ada secarik kertas bertuliskan
                                  
                               
Untuk anakku tersayang Rani
Semoga jagoannya bertambah berat badannya, rajin-rajin member makan ya nak… dan semoga besuk Rani saat kelas 3 sudah berhasil mewujudkan cita-citamu untuk membeli sebuah sepeda mini warna merah  idamanmu
                                                                          Bundamu yang selalu menyayangimu


Sejak mempunyai celengan jago, Rani setiap hari selalu menyisihkan uang jajannya sebagian untuk di tabung. Sambil memasukkan koin dia selalu bergumam “Cepat besar ya yam….” Seraya mengelus-elus badan ayam jagonya itu.


Satu tahun berlalu dan ternyata celengan Rani sudah hampir penuh. “Bunda celangannya aku buka sekarang saja ya” pinta Rani kepada bundanya. “Boleh, tapi ini bunda lihat celenganmu masih bisa di isi, coba Rani bersabar sampai beberapa hari lagi. Biar penuh sekalian isinya” jawab bunda Rani sambil tersenyum saat melihat putrinya sudah tak sabar lagi ingin membuka celengannya. Akhirnya Rani nurut dia berkata “iya lah ga pa pa sekalian besuk habis terima raport saja kurang sebulan lagi, sekalian biar isinya tambah banyak ya bunda”. Bunda mengangguk sambil tersenyum, diam-diam bunda merasa bangga, anaknya Rani termasuk anak yang rajin cerdas dan baik hati. Rani selalu rangking di kelasnya meski mereka berasal dari keluarga yang sederhana. Ibunya seorang penjahit ayahnya seorang petani. Tapi Rani tidak pernah merasa malu dengan kehidupan keluarganya, dia cukup memahami kondisi keluarganya. Dia tak segan membantu kedua orangtuanya di rumah agar meringankan beban bapak dan ibunya.


Rani juga anak yang baik hati, dia tidak marah kepada kedua orangtuanya saat mereka mengatakan belum punya uang untuk membelikan sepeda mini permintaannya. Karena penghasilan bapak dan ibunya hanya cukup untuk memenuhi belanja hidup sehari-hari.
Kurang 2 hari lagi rapot-an, hati Rani semakin berdebar tak sabar rasanya, dia sudah membayangkan sebentar lagi dia bias pergi ke sekolah naik sepeda mini merahnya bersama dengan teman-temannya. Dia tersenyum-senyum sendiri.


“Hai Dina..kenapa wajahmu murung begitu?” sapa Rani kepada teman sebangkunya itu. “Ndak pa pa kok, aku Cuma ga enak badan saja” jawab Dina. “Lagi ada masalah ya?” Tanya Rani agak mendesak. “Iya, tapi aku tidak ingin cerita kepada siapa-siapa” jawab Dina. “Ayolah ga pa pa aku kan sahabatmu, siapa tahu bisa membantu” Rani terus mendesak sahabatnya itu agar bercerita tentang masalahnya kepadanya


“Adikku sakit, kami kesulitan biaya untuk pengobatannya. Kemarin sempat periksa ke puskesmas tapi kata petugasnya harus di bawa ke Rumah Sakit. Aku sedih, karena bapak dan ibuku tak punya cukup beaya” papar Dina. Rani terdiam pikirannya berputar mencari ide untuk membantu sahabatnya itu. “Ya, kamu tenang saja, nanti aku akan membantu untuk mengatasi masalahmu, semoga adikmu segera sembuh” kata Rani menghibur.
Sepanjang jalan, Rani berpikir keras, sahabatnya sedang kesusahan, dia teringat celengannya. Berat sekali, rasanya tinggal besok dia menunggu-nunggu untuk membuka celengannya lalu di antar bapak beli sepeda sementara dia kasihan dengan keluarga Dina sahabatnya itu.


Sampai dirumah Rani langsung menuju kamarnya, dia menimang-nimang celengannya. Sambil menitikkan air mata ia membuka celengannya “Biarlah tahun depan saja aku punya sepeda mini, adik Dina lebih membutuhkan”. Rani membongkar celengannya, uang yang terkumpul sekitar 400 ribu. Dia segera bergegas ke rumah Dina agar adik Dina bias segera di obati. Dina terkejut, dia menolak uang pemberian Rani,tetapi karena Rani memaksa, maka diapun akhirnya menerimanya. Dina terharu dengan sahabatnya yang baik hati itu.


Saat penerimaan raport Rani mendapatkan rangking 1, hatinya senang. Dia bergegas pulang, sementara waktu dia tidak ingin memikirkan sepeda mini lagi. Sampai di depan halaman rumahnya Rani terkejut ada sebuah sepeda mini warna merah yang masih di bungkus plastic. Ada kertas bertuliskan
                                                                          Untuk Rani yang baik hati
Alhamdulillah bapak ada rejeki, panen bapak melimpah tahun ini. Semoga Rani senang dengan sepeda ini dan bias mengantarkan Rani untuk selalu menjadi juara.

Dari Bapak yang selalu menyayangimu