Minggu, 05 November 2017

MENGOKOHKAN DUA BUDAYA UNTUK PERANGI HOAX

MENGOKOHKAN DUA BUDAYA UNTUK PERANGI HOAX

Rafiatul Khoiriyah, S.Si

Sejak pagi seorang ibu muda sudah berjibaku dengan aktifitas pagi yang padat merayap. Karena ibu muda ini ingin memastikan aktifitas paginya bisa berjalan dengan baik termasuk menyiapkan bekal dan sarapan dan segala sesuatu yang harus dibawa putra kesayangannya ke sekolah.


Semua sudah siap. Karena suaminya kerja di luar kota otomatis antar jemput buah hatinya dilakukan semua oleh ibu muda ini. Berangkatlah ibu muda ini ke sekolah anaknya. Setelah sampai di sekolah ibu muda ini segera melanjutkan laju motornya menuju tempat kerja di salah satu badan pemerintahan kota.


Apel pagi dilanjut membereskan administrasi dan lain-lain menenggelamkan ibu muda ini dalam kesibukannya. Hari beranjak siang Handphone  ibu muda tersebut berdering. Ada pesan singkat yang masuk memberitahukan bahwa putranya di sekolah kecelakaan patah tulang dan harus segera operasi. Ibu di mohon segera datang ke Rumah Sakit A. usai membaca pesan tersebut tiba-tiba wajah ibu itu tampak pucat. Gemetar ibu muda itu terbata-bata menyampaikan kepada rekan kerjanya kalau buah hatinya kecelakaan di sekolah dan harus segera dioperasi. Tanpa pikir panjang Ibu tersebut bergegas menuju Rumah Sakit A dengan perasan tegang dan panik. 


Masih dengan perasaan dan wajah tegang  ibu muda  tersebut hilir mudik di rumah sakit mencari tahu dimana anaknya berada namun tidak kunjung ketemu. Bertanya di UGD anaknya tidak ketemu, mencoba Tanya ke perawat tapi hasilnya nihil.  Mencoba menelpon nomor yang mengabarkan tadi juga tidak ada respon.


Perasan Si Ibu semakin tidak tenang, panik dan khawatir juga bingung menjadi satu. Akhirnya rekan kerja dari Ibu tersebut menyarankan untuk menelpon ustadzah di sekolahnya. Singkat cerita ibu muda ini mendapat kabar dari ustadzahnya bahwa putranya dalam kondisi baik-baik saja. Namun, ibu tersebut belum percaya jika belum bertemu langsung dengan putranya. Maka bersegera si Ibu berangkat menuju ke sekolah putranya. Dan benarlah bahwa putranya dalam kondisi baik sehat sedang bermain dengan teman-temannya. Campur aduk perasaan si Ibu sambil memeluk anaknya dan tangisan yang tertahan akhirnya keluar juga.


Bagaimana kalau kita di posisi Ibu muda tersebut? Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah nyata di atas? Ibu muda ini adalah korban dari berita hoax. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ‘hoax’ adalah ‘berita bohong’. Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’  didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.


Kemudahan akses teknologi dan berkembangnya internet memberikan kemudahan akses berita dan informasi apapun. Baik itu berita positif atau negative. Berita itu bisa berupa pesan atau berita yang disampaikan lewat sebuah portal yang belum resmi atau pesan yang masuk lewat inbox atau pesan yang masuk dari satu chating ke chating lain dalam grup whatsap atau facebook surat kabar dan seterusnya. 


Bahaya Hoax


Berita hoax bisa memasuki seluruh lini kehidupan manusia. Termasuk di dalam dunia pendidikan. Sebagai motor penggerak dalam dunia pendidikan guru bertugas pada garda paling depan untuk melawan berita hoax ini. Karena tidak hanya personal saja yang bisa menjadi korbannya. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas berita hoax bisa menjadi sumber fitnah bisa merugikan kelompok, instansi dan yang paling  membahayakan bisa mengganggu keutuhan bangsa ini.


Mari Kenali Hoax

Hati-hati dengan Judul yang provokatif

Aggaran dana pendidikan, proses pengajuan dan pencairan kesejahteraan guru dan berbagai kebijakan lain tentang kesejahteraan guru menjadi ladang empuk untuk membuat berita hoax. Mencerna dan memahami konten berita dan mengedepankan akal sehat menjadi kunci utama. Biasakan juga untuk memilih berita dari sumber terpercaya. Membiasakan diri untuak membaca berita sampai tuntas. Melakukan analisa apakah berita itu benar. Dan melakukan pertimbangan apakah berita itu bisa kita share kepada oranglain juga perlu kita latih dan biasakan.

Periksa Fakta

Saat menerima kabar atau berita apapun hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat sejumlah daftar pertanyaan.  Diantara pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya adalah:  darimana berita ini berasal? Apakah dari orang yang kita kenal? Apakah dari institusi resmi? Apakah Isinya benar? Apakah Isinya baik? Dan seterusnya.
Mengedepankan sikap kritis dalam menerima informasi menjadi kunci penting. Apalagi kita sebagai pendidik. Jangan langsung percaya dan langsung meneruskan berita atau pesan yang kita sendiri tidak memahaminya atau mengetahui kebenaran itu secara pasti.


Lakukan Edukasi Kepada  Siswa, Keluarga, Kolega Untuk Memerangi Hoax
Membangun Budaya Tabayun atau Klarifikasi


Membangun budaya Tabayun atau Klarifikasi kepada pihak terkait adalah cara yang paling baik untuk mengetahui kebenaran suatu berita. Di sini siswa juga kita arahkan untuk selalu mencari sumber informasi yang terpercaya.Dalam contoh kasus di atas ketika Si Ibu langsung klarifikasi ke pihak sekolah barangkali beliau tidak akan sampai membuang waktunya untuk pergi ke Rumah Sakit dan seterusnya.


Di PAUD kita bisa memulai dari hal kecil. Ketika ada dua anak yang berselisih ada yang menangis, si B yang menangis melaporkan kepada gurunya bahwa dirinya telah dinakali Si A. Yang dilakukan guru adalah tabayun atau klarifikasi.  Si A dan Si B dipertemukan ditanya satu-satu kronologi dan alasannya kenapa berbuat demikian? Kalau sudah selesai guru memberikan  arahan agar masalahnya selesai dengan baik.


Budaya tabayun atau klarifikasi ini bisa menjadi pendidikan karakter bagi siswa. Bertanggungjawab dengan informasi yang disampaikan dan bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan.


Budaya Tabayun atau Klarifikasi dapat berjalan baik saat pihak sekolah dan orangtua siswa mempunyai hubungan yang harmonis. Saling percaya dan saling membantu. Peran orangtua dan keluarga sangat menentukan untuk keberhasilan memerangi hoax ini.


Membangun Budaya Literasi Di Sekolah
Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk mengedukasi siswa agar tidak mudah percaya dengan berita hoax adalah dengan membangun budaya tulis menulis dan membaca. Anak yang banyak membaca diharapkan akan mampu mengaitkan apa yang dibacanya dan berlatih menganalisa sebuah berita.
Hoax adalah berita bohong yang tidak bisa dipertangungjawabkan kebenarannya.pelakunya mempunyai tujuan jahat.  Sebagai pendidik kita harus waspada dan antisipasif. Sebagai pendidik kita harus kritis dan tepat dalam  menyikapinya. Jangan sampai terjebak ikut menyebarkan berita yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya. Mengokohkan dua budaya yaitu budaya tabayun atau klarifikasi dan budaya Literasi diharapkan mampu memerangi hoax yang meresahkan masyarakat.


#antihoax
#pgrijateng